Wayang kulit merupakan kesenian tradisional khas jaway ang masih di pertahankan hingga saat ini. Dalam pagelaran wayang kulitbukan hanya dijadikan tontonan saja,namun juga dijadikan tuntunan bagi siapa yang melihatnya. Karena didalam pagelaran wayang kulit ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Dan juga ada beberapa filosofi yang bisa kita ambil dalam pagelaran wayang kulit tersebut.
1 Pethi ( kotak wayang)
Pethi atau kotak wayang merupakan sebuah tempat untuk menyimpan wayang baik sebelum atau setelah digunakan. Peti di ibaratkan seperti kuburan bagi para tokoh tokoh yang sudah mati,dimana didalam kuburan itu gelap pengap tanpa ada penerangan sedikit pun. Walaupun hidup sekalipun pada akhirnya tokoh tokoh tersebut akan terkunci di ruangan yang gelap,sempit dan pengap.
Baca juga : Destinasi Wisata Minat Khusus Goa Bentar ( Gunungkidul )
2 Blencong ( lampu penerangan di belakang layar)
Blencong merupakan sebuah lampu untuk menerang layar. Ibarat cahaya blencong merupakan ( Wahyu) kehidupan. Tanpa ada blencong maka wayang pun tak bisa dimainkan oleh dalang sekali pun wayang itu telah menancap di atas kelir. Dan cahaya ( Wahyu ) tersebu merupakan milik sang pencipta tuhan semesta alam.
3 Dalang
Dalang merupakan yang mengatur lakon atau cerita dalam sebuah pagelaran wayang. Dalang di ibaratkan seperti (Sutradara) kehidupan Tuhan yang mengatur sifat,hidup,mati serta tingkah laku tokoh ataupun makhluk.
4 Kelir
Kelir merupakan batang pisang yang di gunakan untuk menancapkan wayang. Kelir di ibaratkan seperti raga yang dihuni oleh jiwa yaitu wayang. Raga akan berguna ketika jiwa masih menancap namun ketika jiwa sudah tidak lagi menancap maka raga pun tak akan berdaya.
5 Beber ( layar putih)
Beber di ibaratkan seperti bumi yang pada awal penciptaanya masih suci putih bersih,sebelum di huni makhluk. Namun ketika makhluk itu sudah menghuni bumi maka perlahan bumi itu akan tercemari oleh watak dan kelakuan makhluk tersebut.
( Hermawan )








Tidak ada komentar:
Posting Komentar